Beda Produk Investasi, Beda Pula Pajaknya

103

Produk investasi menjanjikan imbal hasil bagi investor yang memilikinya. Besaran imbal hasil tersebut bervariasi, dari yang kecil hingga besar. Namun sebagai harta, produk investasi juga tidak lepas dari pengenaan pajak.

Baca juga: Kenali Produk Investasi Reksa Dana Campuran

Sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus taat membayar pajak, termasuk pajak atas produk investasi. Instrumen investasi apa saja yang dikenakan atau tidak dikenakan pajak dan berapa besarannya, akan kita bahas di bawah ini:

Obligasi

Salah satu instumen yang menjadi favorit investor adalah obligasi, terutama obligasi yang diterbitkan pemerintah. Bagaimana tidak? Obligasi pemerintah memberi kepastian imbal hasil karena pembayaran bunga yang tetap setiap tahun. Dari segi keamanan, obligasi pemerintah telah masuk kategori rating investment grade oleh lembaga rating terkemuka.

Obligasi makin jadi pilihan investor setelah sejak Agustus 2019 pemerintah menetapkan pemotongan pajak bunga obligasi, dari 15 persen dan 20 persen menjadi 5 persen dan 10 persen. Pajak bunga obligasi ini lebih kecil daripada pajak bunga deposito yang masih 20 persen.

Kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi. Peraturan ini ditandatangani Jokowi pada 7 Agustus 2019.

Pemerintah sengaja mengeluarkan kebijakan itu untuk mendorong pembiayaan proyek infrastruktur. Selain itu, kebijakan ini juga dikeluarkan dalam rangka pendalaman pasar keuangan. Pasalnya, tarif pajak bunga obligasi yang lebih rendah bisa merangsang gairah masyarakat agar mau memiliki surat utang.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Saham

    Imbal hasil investasi saham bisa mencapai dua, tiga hingga berkali-kali lipat dalam kurun waktu tertentu. Namun, jangan lupa bayar pajak, ya, karena ada konsekuensi perpajakan yang wajib kamu patuhi. Pajak ini muncul saat kamu menjual saham dan saat menerima dividen atau pembagian keuntungan perusahaan.

    Pajak yang dikenakan merupakan pajak penghasilan yang bersifat final/PPh final. Jumlahnya memang tidak besar karena berdasarkan PPh pasal 4 ayat 2, tarif yang dikenakan adalah sebesar 0,1 persen dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan.

    Tidak hanya itu, investor juga wajib membayar pajak penghasilan saat mendapatkan dividen, yaitu sebesar 10 persen.

    Emas

    Emas merupakan benda berharga yang populer bagi masyarakat Indonesia karena digunakan sebagai produk investasi untuk tujuan keuangan jangka menengah dan panjang seperti dana pendidikan, biaya pernikahan, dan lain-lain. Emas digemari karena imbal hasilnya cukup menjanjikan, dibuktikan dari nilainya yang selalu naik dalam jangka panjang. Kenaikan harganya pun melampaui inflasi tahunan. Dalam kurun waktu 10 tahun harga emas bisa naik dua kali lipat.

    Namun, tahukah kamu jika investasi emas juga dikenakan pajak? Pihak pembeli dikenakan pajak pembelian 0,45 persen saat transaksi. Pajak itu hanya sekali dibebankan saat membelinya.

    Properti

    Properti juga merupakan investasi yang banyak diminati di Indonesia karena nilainya yang cenderung naik di masa depan. Pada saat transaksi, pihak penjual dan pembeli dikenakan jenis pajak yang berbeda, demikian juga besaran pajaknya.

    Sesuai aturan perundangan, pihak penjual dikenakan pajak penghasilan sebesar 2,5 persen dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atau nilai akta jual beli. Sedangkan pihak pembeli dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen dari nilai properti. Khusus untuk sewa properti, pihak pemilik properti dikenakan pajak penghasilan final 10 persen.

    Baca juga: Hindari Investasi Digital Abal-Abal!

    Reksa Dana Bebas Pajak

    Setelah membahas produk investasi yang terkena pajak, ternyata ada produk investasi yang tidak dikenakan pajak atas keuntungannya, yaitu reksa dana. Hal ini berdasarkan UU PPh pasal 4 ayat 3 i, yang menjelaskan reksa dana atau pemegang unit penyertaan termasuk bukan objek pajak.

    Mengapa reksa dana tidak dikenakan pajak? Ternyata ada alasan yang kuat.

    Reksa dana merupakan kumpulan dana dari masyarakat. Ketika dana terkumpul maka reksa dana menjadi subjek yang mewakili dana masyarakat. Oleh Manajer Investasi, dana yang terkumpul dibelikan aset-aset keuangan seperti deposito, obligasi, dan saham. Sebagai subjek pemilik deposito, obligasi, dan saham, reksa dana sudah membayar pajak atas keuntungan/bunga yang didapat dari ketiga aset keuangan ini. Sehingga jika ada imbal hasil dari reksa dana, investor sudah tidak terkena pajak lagi.

    Baca juga: Sukuk, Investasi Syariah yang Sedang Digemari

    Dengan memahami apakah suatu produk investasi dikenakan pajak dan besarannya, kamu pun dapat mempertimbangkan produk investasi mana yang paling sesuai untukmu. Selamat berinvestasi! 

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu