Ingin Meraih Cuan dari Window Dressing? Cermati Tips Investasinya

42

Ada momentum yang selalu ditunggu-tunggu oleh investor di akhir tahun. Jelang libur Natal dan Tahun Baru, investor berharap cuan mengalir dari aksi window dressing yang terjadi di pasar saham. Investor percaya indeks harga saham akan terkerek dan memberikan keuntungan.

Namun, pasar saham di akhir tahun tak selalu sama. Bagi kamu yang ingin memanfaatkan peluang window dressing harus sangat cermat dalam menentukan langkah investasi.

Dengan melihat potensi keuntungan yang bisa diraih dari window dressing, sebagian investor rajin melakukan aksi beli saham yang dinilai potensial di akhir tahun. Kenaikan harga saham biasanya sudah terlihat sejak bulan November dan berlanjut hingga awal tahun depan atau biasa disebut dengan January Effect.

Tapi, kamu tetap harus berhitung tentang berbagai faktor yang mempengaruhi pasar karena kondisi di akhir tahun ini tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Lihat saja, pada bulan November 2019 misalnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas 3,45% dalam sebulan. Namun per 6 Desember 2019, IHSG sudah bergulir di level 6.186,87 naik 2,91% dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya.

Baca juga: Ingin Mulai Trading Saham? Pahami Dulu Cara Menilai Harga Sahamnya

Momentum window dressing ini sangat layak untuk dicermati bagi kamu yang tengah berinvestasi saham. Agar bisa menikmati potensi keuntungan dari pasar saham ini, kamu perlu mengenal lebih jauh tentang seluk beluk window dressing terlebih dahulu.

Apa itu window dressing?

Jika dilihat dari kata pembentuknya, window dressing berasal dari dua kata yakni window yang berarti jendela di mana orang dari luar bisa melihat kondisi di dalam rumah, dan dressing yang berarti mendekorasi bagian dalam rumah agar terlihat bagus dari luar rumah.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Di pasar modal, window dressing dimaknai sebagai strategi para manajer investasi dan perusahaan atau emiten untuk mempercantik portofolio dan laporan keuangannya sebelum dipublikasikan ke investor atau pemegang saham. Harapannya dengan laporan keuangan yang telah dipoles, investor akan lebih yakin untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

    Upaya mempercantik laporan keuangan ini terjadi di setiap akhir kuartal. Namun efek window dressing akan sangat terasa terutama di bulan Desember, di mana perusahaan menginginkan bisa menutup tahun dengan laporan kinerja yang terlihat mentereng. Bagi manajer investasi, window dressing dilakukan dengan melakukan aksi pembelian saham-saham yang menjadi aset dasar atau underlying assetproduk reksa dana yang dikelola. Aksi pembelian saham-saham unggulan ini dapat mengangkat harga saham tersebut sehingga nilai aktiva bersih (NAB) produk reksa dana ikut terkerek.

    Potensi kenaikan harga saham dari window dressing

    Para investor percaya window dressing akan membuat indeks harga saham di akhir tahun bullish. Keyakinan para investor ini bukan tanpa alasan. Secara historis, dikutip dari Investor.id pada 5 Desember 2019, indeks harga saham gabungan (IHSG) di bulan Desember selalu naik dalam 22 tahun terakhir atau sejak 1997, kecuali pada tahun 2000 di mana IHSG minus 3%.

    Dalam rentang waktu tersebut, IHSG di bulan Desember naik cukup tinggi pada tahun 1999 sebesar 15,9%, tahun 2003 sebesar 12,2%, tahun 2008 sebesar 9,17% dan tahun 2017 sebesar 6,78%. Efek positif window dressingdiprediksi juga terjadi pada akhir tahun ini.

    Efek window dressing terhadap kenaikan harga saham di setiap akhir tahun berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti spekulasi kinerja emiten di akhir tahun, data-data ekonomi baik domestik maupun internasional jelang akhir tahun, perang dagang, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan lain-lain.

    Memanfaatkan peluang window dressing

    Window dressing di akhir tahun membuka peluang bagi investor untuk mendapatkan keuntungan sebelum libur Natal dan Tahun Baru. Apalagi pergerakan IHSG cenderung landai sepanjang tahun ini dengan penurunan 2,95% secara year to date (ytd) per 6 Desember 2019. Penguatan indeks harga saham di akhir tahun akibat window dressing diharapkan bisa menambal modal yang telah tergerus.

    Baca juga: Harga Saham Turun Tajam? Tetap Tenang dan Coba Tips Ini

    Salah satu cara paling mudah untuk memanfaatkan peluang dari window dressing adalah dengan membeli reksa dana indeks LQ45. Saham-saham LQ45 adalah penggerak utama IHSG sehingga reksa dana yang memiliki aset dasar saham-saham tersebut juga memiliki pergerakan yang sangat mirip dengan IHSG.

    Ada beberapa nama reksa dana indeks LQ45 yang bisa kamu pilih. Sebaiknya pilih reksa dana yang benar-benar meniru indeks secara penuh bukan reksa dana yang menggunakan metode sampling. Dengan demikian, peluang untuk mendapatan cuan dari aksi window dressing akan semakin besar.

    Baca juga: Serba Serbi Reksa Dana Saham yang Bisa Diperdagangkan

    Namun perlu dipertimbangkan juga bahwa berinvestasi pada reksa dana akan dikenai biaya masuk (subscription) dan biaya keluar (redeemption). Hal tersebut dapat mengurangi imbal hasil akhir yang diterima oleh investor.

    Cara lain memanfaatkan peluang dari window dressing tentu saja dengan berinvestasi langsung pada saham-saham potensial. Kamu bisa memilih saham-saham yang secara historis mengalami kenaikan di bulan November dan Desember pada tahun-tahun sebelumnya. Saham-saham langganan window dressing ini memiliki peluang untuk kembali menguat di tahun ini.

    Namun, dalam melakukan pemilihan saham-saham tersebut kamu tetap harus mempertimbangkan faktor fundamental saham yang hendak dibeli. Soalnya, dengan fundamental saham yang kuat potensi kenaikan harga sahamnya juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, seandainya estimasi window dressing tidak terjadi pada saham tersebut, kamu tetap memiliki peluang mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham tersebut di waktu yang akan datang.

    Saham-saham bluechips sebaiknya menjadi pilihan utama kamu dalam memanfaatkan window dressing. Sebagai pendorong utama indeks harga saham, saham-saham tersebut memiliki peluang naik lebih besar di akhir tahun.

    Risiko investasi

    Data historis yang menunjukkan adanya kenaikan indeks harga saham hampir di setiap akhir tahun bisa menjadi pertimbangan kamu dalam menentukan langkah investasi. Namun perlu diingat bahwa penggunaan data masa lalu tidak akan menjamin kondisi yang sama akan terulang di tahun ini. Pola pergerakan harga saham yang sama mungkin bisa terjadi di akhir tahun ini, tapi bukan tidak mungkin terjadi anomali.

    Kenaikan indeks harga saham di bulan Desember digerakkan oleh saham-saham kapitalisasi besar atau big caps. Namun selama ini tidak semua saham kapitalisasi besar menguat di akhir tahun. Sebaliknya sebagian saham kapitalisasi besar justru terkoreksi.

    Begitu juga dengan sektor saham yang menopang kenaikan indeks harga saham di bulan Desember bisa berbeda-beda setiap tahunnya. Dengan demikian, sektor saham yang menopang penguatan IHSG akhir tahun 2018 belum tentu akan memberikan pertumbuhan yang sama di akhir tahun ini.

    Dengan melihat risiko investasi ini, ada baiknya kamu mengalokasikan dana spekulasi untuk mengambil peluang cuan atau keuntungan dari window dressing, bukan dana utama investasi. Jadi ketika window dressingternyata tidak sesuai ekspektasi, dana utama investasi kamu tidak terganggu.

    Semoga tulisan ini bisa membantu kamu dalam menentukan langkah investasi di akhir tahun.

     

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu