Menyambut Tahun Baru, Jangan Lupa Financial Check-Up Dulu

107

Jelang akhir tahun seperti ini sebenarnya menjadi momentum yang tepat untuk melakukan financial check-up seperti apa wajah keuangan sepanjang tahun 2019. Apakah kondisi kesehatan keuangan kamu tahun ini berhasil terjaga atau justru semakin memburuk dibanding tahun sebelumnya? Tidak berbeda dengan medical check up, mengecek keuangan alias financial check uppenting dilakukan secara rutin, minimal setahun sekali, supaya kamu bisa mengetahui kondisi keuangan yang sesungguhnya.

Baca juga: Cara Mudah untuk Financial Check Up

Dengan demikian, ketika ada permasalahan, kamu bisa segera bertindak agar kondisi keuangan dapat kembali sehat. Selain itu, hasil evaluasi keuangan akan menjadi bekal penting sebelum kamu memasang target-target keuangan baru di tahun mendatang. Dengan begitu, target keuangan yang kamu susun bisa lebih realistis dan lebih mungkin tercapai tahun depan. Nah, dari mana sebaiknya kita memulai langkah evaluasi keuangan? Yuk, simak paparan berikut.

Lihat catatan keuangan pribadi

Kebiasaan keuangan yang baik akan memudahkan kamu mewujudkan kondisi finansial pribadi yang sehat. Salah satu bentuk kebiasaan keuangan yang baik adalah membiasakan diri memiliki catatan keuangan pribadi. Setiap orang sebaiknya memiliki minimal dua jenis catatan keuangan berikut ini.

  • Laporan neraca keuangan

Laporan keuangan ini berisi wajah keuangan kamu pada suatu periode tertentu. Apa saja yang perlu dicatat di sini? Pada dasarnya, neraca keuangan memuat dua kelompok data yaitu data kekayaan atau aset dan data kewajiban alias utang.

Untuk kelompok data kekayaan (aset), daftarlah mulai dari aset likuid yaitu aset yang bisa mudah kamu gunakan atau kamu cairkan. Termasuk di sini adalah jumlah uang tunai di tangan, uang di rekening bank, tabungan rencana, deposito, dan emas logam mulia. Lanjutkan dengan mencatat daftar aset investasi mulai dari yang ada di reksa dana, obligasi jangka pendek (obligasi ritel, sukuk ritel ataupun saving bond retail), saham, hingga investasi kamu di program pensiun seperti Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan atau Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) pribadi bila ada. Bila ada aset investasi riil lain seperti properti baik tanah atau bangunan, jangan lupa menuliskannya juga.

Selanjutnya, daftarlah juga aset guna yang kamu miliki mulai dari rumah tinggal, mobil, perhiasan, sepeda motor, laptop, barang koleksi yang bernilai bila ada. Setelah itu, beranjak mendaftar kewajiban atau utang yang kamu miliki. Mulailah dengan mencatat kewajiban jangka pendek seperti utang kartu kredit, pinjaman lunak di tempat kerja, kredit tanpa agunan bila ada dan jenis utang lain yang jatuh tempo di bawah 1 tahun. Lalu, daftarlah juga kewajiban jangka panjang seperti kredit pemilikan rumah, kredit investasi atau modal kerja bila ada.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Dari data-data tersebut, kamu bisa mengetahui berapa sebenarnya total aset yang kamu miliki, berapa nilai utang yang kamu tanggung. Dengan demikian, kamu dapat menghitung berapa nilai bersih kekayaan (networth) kamu pada periode tersebut. Data-data ini akan sangat dibutuhkan untuk mengukur kesehatan keuangan kamu.

    • Laporan arus kas

    Sesuai namanya, catatan arus kas memuat aliran uang masuk dan keluar yang kamu miliki. Terdiri atas laporan arus kas bulanan dan arus kas tahunan. Apa saja yang perlu dimuat dalam laporan arus kas? Di kolom pertama, tulislah pendapatan (arus masuk) yang kamu terima baik bulanan ataupun tahunan. Terdiri atas pendapatan gaji, bonus bulanan atau tahunan bila ada, pendapatan dari bisnis sampingan bila ada, lalu pendapatan berupa Tunjangan Hari Raya (THR), dan pendapatan lain-lain. Dari sini, kamu bisa menjumlah berapa besar pendapatan bulanan dan tahunan kamu.

    Selanjutnya, perincilah jenis-jenis pengeluaran (arus keluar) yang kamu lakukan. Jenis pengeluaran yang perlu dicatat antara lain:

    1. Pengeluaran tabungan untuk investasi, yaitu dana yang kamu keluarkan untuk keperluan menabung dan berinvestasi setiap bulan.
    2. Pengeluaran operasional rumah tangga terdiri atas, pembayaran premi asuransi bulanan, belanja bulanan, belanja mingguan, tagihan listrik/air/internet/gas, gaji asisten rumah tangga/sopir/babysitter.
    3. Pengeluaran transportasi seperti biaya bensin, tol, parkir, ojek online, dan sebagainya.
    4. Pengeluaran anak bila kamu sudah memiliki buah hati. Mulai dari biaya SPP bulanan, jajan anak, pakaian, tabungan, biaya kesehatan, les, dan sebagainya.
    5. Pengeluaran keluarga/sosial seperti bantuan rutin untuk orangtua, zakat/perpuluhan, undangan pernikahan/khitan, arisan, hadiah ulang tahun, dan lain-lain.
    6. Pengeluaran pribadi, termasuk di sini adalah pengeluaran untuk hobi, perawatan di salon, langganan gym, belanja buku, biaya berobat ke dokter, langganan digital streaming, dan sebagainya.
    7. Pengeluaran utangMulai dari tagihan atau cicilan kartu kredit, cicilan kredit pemilikan rumah, kredit tanpa agunan, cicilan utang koperasi di tempat kerja, dan jenis cicilan utang lain.
    8. Pengeluaran tahunan. Banyak orang melupakan pos pengeluaran tahunan karena dianggap masih belum mendesak. Padahal, pengeluaran tahunan seringkali memakan biaya tak sedikit. Nah, supaya kamu memiliki catatan keuangan komprehensif, ada baiknya mendaftar pula jenis-jenis pengeluaran tahunan mulai sekarang agar bisa mengantisipasi biayanya kelak. Jenis pengeluaran tahunan antara lain: biaya mudik, pengeluaran liburan tahunan, premi asuransi tahunan, pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, pengeluaran kurban, biaya daftar ulang sekolah anak, hingga iuran tahunan kartu kredit.

    Laporan arus kas itu menjadi catatan keuangan rutin yang harus rajin kamu isi setiap bulan. Dengan begitu, kamu memiliki gambaran ke mana saja pendapatan yang kamu hasilkan dihabiskan. Apakah lebih banyak untuk pengeluaran yang sifatnya konsumtif atau bisa seimbang dengan pengeluaran tabungan atau investasi, dan sebagainya.

    Selain itu, laporan arus kas juga bisa berguna untuk membantu kamu merencanakan anggaran. Setiap akhir bulan, kamu bisa menyusun rencana anggaran (budgeting) untuk setiap pos. Dari situ, kamu dapat memantau sejauh mana kesesuaian rencana yang kamu susun dengan realisasinya.

    Baca juga: Solusi Jitu Tutup Utang Berjumlah Besar

    Tapi, bagaimana bila selama ini kamu sama sekali tidak pernah mencatat arus keluar masuk keuangan? Cobalah untuk mengingat-ingat dan mencatat arus masuk keluar uang setidaknya dalam tiga bulan terakhir. Karena tanpa adanya laporan arus kas, kamu akan kesulitan memeriksa kesehatan keuangan. Jadi, jangan tunda lagi, ya.

    Saatnya financial check up!

    Nah, setelah memiliki catatan keuangan yang lengkap yaitu laporan neraca dan laporan arus kas, langkah pemeriksaan kesehatan keuangan alias financial check up akan berlangsung lebih mudah. Ada beberapa indikator kesehatan yang bisa kamu gunakan untuk mengetahui seberapa sehat kondisi finansial kamu. Yuk, simak beberapa indikator finansial penting berikut ini:

    • Rasio Utang (kemampuan membayar utang)

    Keuangan yang sehat adalah keuangan yang tidak terbebani banyak utang melampaui kemampuan pendapatan. Kamu pasti pernah mendengar ungkapan “pasak tidak boleh lebih tinggi dari tiang”. Ketika keuangan seseorang terbebani utang terlalu besar, bisa dipastikan keuangan orang tersebut tidak sehat dan rentan terhadap kebangkrutan. Itulah mengapa pemeriksaan beban utang jadi hal pertama yang perlu kamu lihat saat financial check up.

    Debt Service Ratio berarti rasio kemampuan pembayaran utang. Rasio ini digunakan untuk mengukur apakah keuangan kamu masih cukup sehat kendati menanggung utang, atau sudah terlampau “sakit” akibat beban utang yang terlalu besar. Cara menghitungnya sebagai berikut:

    Debt Service Ratio= Total beban utang bulanan : Total pendapatan bulanan

    Kamu bisa mengambil data total beban utang bulanan di laporan arus kas. Dalam perspektif perencanaan keuangan sehat, angka debt service ratio maksimal sebesar 30%. Bila lebih dari itu, keuangan kamu berarti kebanyakan beban utang dan kemampuan pembayaran utang kamu terbilang rendah. Supaya kembali sehat, kamu perlu menurunkan beban cicilan utang misalnya dengan melunasi lebih cepat utang yang berbunga tinggi. Bisa juga dengan memperbesar pendapatan sehingga rasio utang kamu bisa menurun.

    • Rasio Likuiditas

    Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan keuangan kamu mengubah aset menjadi uang tunai dengan segera. Dengan kata lain, rasio ini membantu kamu mengetahui apakah kamu memiliki bantalan keuangan yang cukup ketika menghadapi situasi darurat yang menuntut kehadiran uang tunai saat itu juga.

    Bagaimana cara menghitung rasio likuiditas? Mudah saja. Kamu tinggal menjumlahkan nilai aset-aset likuid (bisa dilihat di laporan neraca), lalu bagilah jumlahnya dengan nilai total pengeluaran setiap bulan. Sebagai contoh, total aset likuid yang kamu miliki mencapai Rp60 juta. Sedangkan angka pengeluaran tiap bulan mencapai Rp10 juta. Dengan demikian, rasio likuiditas kamu mencapai 6 kali. Secara umum, rasio likuiditas ideal minimal sebesar 6 kali. Tapi bila kamu sudah menikah dan memiliki anak, akan lebih baik bila rasionya lebih tinggi minimal 9 kali nilai pengeluaran bulanan.

    • Rasio Tabungan (Saving Ratio)

    Menabung berarti menyisihkan sebagian penghasilan saat ini untuk mengantisipasi kebutuhan biaya di masa depan. Tentu saja antisipasi di sini harus memperhitungkan faktor inflasi. Oleh karena itu, walaupun istilahnya “menabung”, ada baiknya kamu memastikan menyisihkan sebagian pendapatan di instrumen yang mampu melawan inflasi.

    Rasio tabungan menunjukkan kemampuan kamu menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Cara menghitungnya gampang yaitu jumlahkan total tabungan yang kamu miliki atau pendapatan yang mampu kamu sisihkan dalam periode tertentu (tahunan atau bulanan), lalu bagilah dengan pendapatan dalam periode tersebut.

    Contoh, total pendapatan yang kamu sisihkan setiap bulan untuk ditabung mencapai Rp3 juta, sedangkan pendapatan bulanan kamu rata-rata sebesar Rp15 juta. Dengan demikian, rasio tabungan kamu mencapai 20%. Rasio tabungan yang sehat minimal sebesar 10%.

    Baca juga: Hati-Hati Terjerat Fintech Lending Bodong

    • Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio)

    Rasio ini untuk mengukur seberapa besar porsi kekayaan yang kamu miliki terhadap total aset yang ada. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui apakah ketika terjadi ancaman kebangkrutan akibat utang, aset-aset yang kamu miliki bisa menutup seluruh kewajiban tersebut.

    Angka rasio solvabilitas minimal sebesar 35%, semakin besar maka semakin baik. Cara hitungnya seperti ini: jumlahkan lebih dulu seluruh aset yang kamu miliki lalu kurangi dengan total kewajiban yang kamu tanggung sehingga kamu mendapatkan angka kekayaan bersih (net worth). Kamu bisa mengeceknya di laporan neraca keuangan. Lalu, bagilah angka net worth tersebut dengan total aset. Itulah angka rasio solvabilitas kamu.

    Sebagai contoh, nilai aset yang kamu miliki mencapai Rp1 miliar. Setelah dikurangi kewajiban, didapatkan nilai net worth sebesar Rp300 juta. Dengan begitu, rasio solvabilitas adalah Rp300 juta dibagi Rp1 miliar, didapatkan angka 30%. Angka itu indikator keuangan kamu kurang sehat, karena nilai kekayaan bersih cuma sebesar 30% dari total aset yang kamu miliki.

    • Rasio Utang dibanding Aset

    Mungkin kamu sudah sering mendengar celetukan: orang yang terlihat kaya raya, belum tentu beneran kaya. Merasa kaya raya karena memiliki banyak aset berharga, gadget canggih dan barang branded, sah-sah saja. Namun, apakah itu berarti kamu benar-benar kaya? Belum tentu, lo.

    Banyak orang yang terlihat kaya raya karena memiliki aset melimpah, ternyata beban utangnya sangat besar. Membangun kekayaan dengan utang memang diperbolehkan selama rasionya sehat. Nah, bagaimana cara mengukurnya? Kamu bisa menghitung dengan menjumlahkan nilai total aset yang kamu miliki, mulai dari aset likuid, aset guna, aset investasi dan sebagainya; lalu bagilah dengan total utang.

    Sebagai contoh, total seluruh aset yang kamu miliki mencapai Rp1,5 miliar. Sedangkan total utang atau kewajiban yang kamu tanggung adalah Rp700 juta. Sehingga, rasio utang dibanding aset mencapai 47%. Angka ideal rasio ini adalah di bawah 50%. Semakin kecil semakin sehat karena artinya aset yang kamu miliki tidak didominasi oleh utang. Sebaliknya bila rasionya di atas 50% itu menjadi alarm merah karena berarti aset yang kamu miliki kebanyakan dibiayai oleh utang.

    • Rasio aset investasi berbanding kekayaan bersih

    Rasio ini membantu kamu untuk mengukur seberapa besar kekuatan investasi dalam menopang pengeluaran kamu. Sehingga kamu bisa melihat apakah kebutuhan kamu sejauh ini masih lebih banyak ditopang oleh gaji atau sudah banyak didukung oleh hasil investasi.

    Cara menghitungnya mudah. Kamu tinggal melihat ke laporan neraca keuangan dan ambil angka pendapatan dari aset investasi lalu bagilah dengan total kekayaan bersih. Pendapatan dari aset investasi berarti, nilai return atau keuntungan investasi saham, reksa dana, hasil sewa properti, pendapatan berupa dividen, dan sebagainya. Totalkan seluruh pendapatan tersebut dan bagilah dengan total kekayaan bersih.

    Contoh, total pendapatan dari aset investasi kamu mencapai Rp50 juta. Sedangkan nilai kekayaan bersih yang kamu miliki sebesar Rp500 juta. Berarti, rasio aset investasi dibanding networth adalah sebesar 10%. Dengan kata lain, 10% aset yang kamu miliki berasal dari pendapatan investasi atau pendapatan pasif. Angka idealnya di atas 50%. Bila kamu rajin berinvestasi, perlahan tapi pasti rasionya bisa meningkat.

    Baca juga: 4 Investasi Terbaik di Era Pasar bebas

    Itulah cara mudah melakukan evaluasi keuangan tahunan dan mengetahui kesehatan finansial. Mudah bukan? Yuk, segera jalankan menyambut tahun yang baru!

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu