Ini Dia Investasi Kinclong untuk 2020

121

Jelang akhir tutup tahun, para investor mulai memperhitungkan kira-kira apa saja investasi yang bisa membawa keuntungan lebih, terutama dengan kondisi kekinian yang sedang terjadi di dunia.

Baca juga: Cermati Hal Ini Sebelum Memilih Investasi

Investor memang harus berhati-hati, terutama karena resesi yang katanya mulai membayangi, ditandai dengan prediksi pertumbuhan ekonomi global yang hanya naik tiga persen, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina yang masih terus terjadi, serta tentu saja kondisi politik serta ekonomi dalam negeri.

Meskipun demikian, kamu tak perlu berhenti berinvestasi. Masih ada, kok, beberapa investasi yang diramalkan akan tetap kinclong untuk tahun 2020 mendatang. Penasaran? Yuk, disimak.

Emas

Sejak tahun 2019, emas sudah digadang-gadang menjadi investasi yang menguntungkan. Maklum, saat itu perang dagang sudah dimulai dan perekonomian AS diprediksi akan terguncang sehingga para investor cari aman dengan investasi emas.

Perkiraan para investor memang tidak banyak bergeser. Terbukti sepanjang 2019 harga emas sudah naik sebanyak 16 persen karena perang dagang Cina dan AS ternyata terus berkepanjangan. Bagaimana dengan 2020 mendatang? Nah, kekinclongan emas diprediksi masih berpendar.

James Steel, kepala analis logam mulia di HSBC Securities (USA) Inc., malah berpendapat emas akan menutup tahun 2019 di level US$1.555 per ounce dan menutup tahun 2020 di US$1.605. Dikutip Bisnis.com, Steel mengatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar secara global, imbal hasil rendah, dan risiko geopolitik adalah faktor pendukung harga emas yang tetap naik.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Meski demikian, Steel beranggapan ada dua hambatan utama untuk emas yakni penguatan dolar AS dan berkurangnya permintaan fisik di pasar negara berkembang. Pastinya dua masalah tadi bukan apa-apa jika dibandingkan faktor yang mendorong harga emas naik.

    Saham

    Saham, terutama di kawasan Asia ternyata masih memiliki prospek yang bagus di tahun 2020. Khusus Indonesia, Bank Investasi J.P Morgan meramalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia akan meroket di atas 7.000 bahkan di level 7.250. Saat ini IHSG Indonesia berada di kisaran 6.000.

    Meroketnya harga saham gabungan ini dipicu pemerintah Indonesia yang berhasil mendapatkan dukungan dari partai-partai di parlemen, sehingga beberapa agenda yang berhubungan dengan politik dan ekonomi diperkirakan mudah diselesaikan dengan jalan kompromi.

    J.P Morgan juga memprediksi beberapa saham akan mengalami overweight. Artinya, saham itu akan mengalami kenaikan harga, terutama dengan makin tingginya IHSG. Kepala Riset Saham Asia ex-Japan J.P Morgan James Sullivan meramalkan saham yang mengalami overweight kebanyakan berasal dari sektor perbankan, properti, infrastruktur, telekomunikasi, dan konsumer.

    Sullivan, yang dikutip CNBC International, juga menyarankan investor untuk menghindari saham dari sektor batu bara dan ritel untuk tahun 2020.

    Baca juga: Aset Digital, Investasi Masa Kini

    Properti

    Properti diramalkan tetap menjadi pilihan investasi yang menguntungkan untuk tahun 2020. Indeks harganya diprediksi bisa naik enam sampai sembilan persen, sementara suplai properti naik lima persen. Berdasarkan outlook yang dikeluarkan Rumah.com baru-baru ini, peminat properti akan tetap didominasi kelas menengah dan kelas menengah ke bawah. Menariknya, mayoritas pembeli properti tertarik pada pinjaman syariah dengan cicilan jangka panjang yang stabil.

    Meskipun menguntungkan dan harga selalu naik setiap kuartal, properti merupakan aset yang sulit untuk segera cair. Jadi buat kamu yang tertarik berinvestasi di bidang ini, dibutuhkan komitmen serius.

    Reksa dana

    Reksa dana tetap menjadi primadona investor newbie karena risikonya minim dan dikelola manajer investasi yang berpengalaman. Bagaimana reksa dana di tahun 2020? Pastinya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi sekitar lima persen, kondisi reksa dana di Indonesia akan lebih baik. Ekonom di Bareksa sendiri masih optimis bahwa reksa dana tetap menciptakan cuan atau keuntungan.

    Apalagi, Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 75 bps (basis poin) dan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate menjadi 5,75 persen.

    Presiden Direktur Samuel Aset Manajemen Agus Basuki Yanuar mengatakan bahwa reksa dana terproteksi yang berbasis dasar obligasi mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga acuan. “Ini jadi potensi bagi investor,” katanya yang dikutip CNBC.

    Baca juga: Pelajari Skema Ponzi Agar Tak Merugi

    Tertarik? Kenapa tidak menjadikan salah satu dari ragam investasi di atas sebagai salah satu resolusi tahun barumu?

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu