Denica Flesch: Melawan Kemiskinan dengan SukkhaCitta

138

Saat masih bekerja sebagai ekonom di Bank Dunia, Denica Flesch (29) kerap melakukan perjalanan ke pelosok Nusantara. Ketika itu dia melihat bahwa jarang anak muda yang tertarik bekerja di industri kerajinan. Padahal, industri kerajinan merupakan sektor yang menyerap banyak lapangan kerja. Dari situ Denica menyimpulkan bahwa memberdayakan masyarakat perajin dapat memberikan dampak positif secara langsung pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Baca juga: Usaha Leisure Gear Berkualitas Ala Kris Samuel

Di sisi lain, Denica mengamati adanya peningkatan jumlah konsumen fashion khususnya anak muda yang mementingkan kisah di balik pakaian yang mereka beli. Hal ini mencetuskan inspirasi pada Denica untuk membangun sebuah wirausaha sosial yang memberikan dampak langsung pada masyarakat perajin. Dia pun mengundurkan diri dari pekerjaannya di Bank Dunia dan mulai melakukan riset mengenai sistem industri kerajinan serta relasinya dengan penghidupan masyarakat perajin di pedesaan.

Tiga pilar

Denica menghabiskan waktu satu tahun mempelajari sistem kerajinan industri, termasuk teknik membatik dan pewarnaannya. Di tengah risetnya, Denica bertemu dengan satu keluarga yang menjual pasta indigo (warna biru) pewarna tekstil alami dari tanaman nila yang mereka budidayakan di Desa Jlamprang, Wonosobo, Jawa Tengah.

Meski sudah lima tahun menjual pasta indigo, keluarga tersebut hampir tidak menikmati manfaat ekonomi dari usahanya. Denica pun mengusulkan memberi nilai tambah pada pasta indigo tersebut dengan melatih ibu-ibu di Desa Jlamprang membatik menggunakan pewarna alami itu. Bersama tiga ibu di Desa Jlamprang, Denica memulai SukkhaCitta sejak Agustus 2016.

Nama SukkhaCitta diambil dari kata “sukacita” dalam bahasa Indonesia. Dalam menjalankan bisnis SukkhaCitta, Denica membuat standar memakai istilah #MadeRight. Standar ini mewakili filosofi bahwa semua pakaian yang diproduksi SukkhaCitta haruslah ‘dibuat dengan semestinya’, memenuhi tiga pilar yaitu menyediakan upah yang layak bagi para perajin, berdampak baik bagi lingkungan berkelanjutan, serta melestarikan tradisi.

“Karena alasan ini, di SukkhaCitta kami hanya menggunakan kain batik tulis atau kain tenun untuk dibuat menjadi pakaian,” tulis Denica untuk greatmind.id.

Baca juga: Kopi Tuli, Berbisnis Sambil Memperjuangkan Kesetaraan

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Satu desa, satu koleksi

    Di awal memulai SukkhaCitta, Denica melatih langsung para perajin satu per satu di Desa Jlamprang. Namun sarjana ekonomi lulusan Universitas Erasmus, Rotterdam, Belanda ini lantas menyadari cara itu cukup menghabiskan tenaga dan waktu. Dari pengalaman tersebut Denica lalu membuat sistem pemberdayaan perajin dengan program yang dinamainya “Jawara Desa”.

    Di setiap desa binaan SukkhaCitta, mereka akan bekerja sama dengan Jawara Desa yang telah dipilih untuk kemudian diberikan pelatihan dan memperoleh bantuan kredit usaha mikro. Para Jawara Desa ini diminta mengajak para perajin lain di desanya dan meneruskan pelatihan yang telah mereka dapatkan.

    Saat ini SukkhaCitta telah memiliki empat desa binaan yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Flores. Ada sekitar 20 perajin di setiap desa yang menjadi mitra SukkhaCitta.

    Sebelum memulai kerja sama dengan masing-masing desa, Denica terlebih dahulu menyelami kehidupan para perajin untuk membangun kepercayaan mereka. Setiap komunitas perajin memiliki keahlian dan permasalahan yang berbeda. Inilah yang mendasari konsep One Village, One Collection di SukkhaCitta, yakni setiap desa memproduksi tema koleksi yang unik, merepresentasikan kisah mereka masing-masing yang juga berbeda.

    Misalnya saja, koleksi Titik yang dihasilkan para penenun di Desa Medono, Kendal, Jawa Tengah, menonjolkan motif titik pada kain. Motif titik tersebut merupakan hasil pelatihan teknik menenun dari SukkhaCitta untuk meningkatkan daya inovasi para perajin. Sebelumnya, kerajinan tenun di Desa Medono makin menurun karena desainnya monoton dan kurang laku di pasaran.

    Pengiriman ke seluruh dunia

    Dalam laman SukkhaCitta, Denica mengatakan tujuannya mendirikan SukkhaCitta adalah sebagai sebuah model perubahan dan bukan sebagai fashion brand belaka. Sistem produksi yang berpihak pada perajin menjadi salah satu aspek yang diutamakan. Namun, di sisi lain dia juga tetap harus menjalankan bisnis secara efisien agar mampu menghasilkan keuntungan yang memungkinkan tercapainya visi SukkhaCitta. Hal ini menjadi salah satu tantangan cukup besar yang dihadapi Denica dalam proses produksi.

    “Setiap pakaian dibuat oleh satu perajin, sedangkan kami juga harus menjaga kualitas kontrol sambil memenuhi tenggat waktu produksi yang ketat. Kami ingin melakukan hal yang benar, tapi seringkali biayanya juga besar. Cukup sulit karena di industri fashion kami bersaing dengan brand yang tidak memiliki idealisme seperti kami,” papar Denica pada thegoodsdept.com.

    Satu koleksi SukkhaCitta dapat memakan waktu produksi 159-265 jam dan harganya berkisar antara Rp245.000 – Rp3.250.000. Target pasarnya adalah pencinta fashion yang ingin memiliki busana dengan kisah yang dapat mereka ketahui serta dibuat secara etis dari sisi ekonomi dan lingkungan.

    Oleh karena itu Denica dan timnya secara berkala menuliskan kisah setiap koleksi busana mereka melalui sukkhacitta.com. Untuk meningkatkan awareness pasar, promosi dilakukan melalui media sosial Instagram. SukkhaCitta pun beberapa kali bekerja sama dengan figur publik seperti penyanyi Monita Tahalea dan pemain cello dunia Yo-Yo Ma.

    Berkat kekuatan misinya, SukkhaCitta telah memperoleh tempat tersendiri di kalangan pencinta slow fashion IndonesiaSelain ke seluruh Indonesia, SukkhaCitta juga melayani penjualan dan pengiriman produk ke seluruh dunia melalui www.sukkhacitta.com.

    Sekolah perajin tekstil

    Dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan para perajin, 56% dari pembelian konsumen disalurkan langsung pada perajin. Dampaknya, kesejahteraan para perajin kini dapat meningkat sebesar 40%. Denica juga menyisihkan sebagian keuntungan yang diperoleh untuk membangun Rumah SukkhaCitta, yaitu rumah produksi sekaligus sekolah bagi perajin tekstil.

    Sekolah perajin tekstil ini direncanakan dibangun di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Flores. Selain dari keuntungan bisnis, Denica juga menggandeng pihak ketiga seperti Kedutaan Besar Jerman dan DBS Foundation untuk mendanai pembangunannya.

    Baca juga: Pengusaha Muda Sukses Kelola Bisnis Olahraga

    Denica mengklaim Rumah SukkhaCitta merupakan sekolah perajin tekstil pertama di Indonesia. Selama ini teknik kerajinan tekstil seperti membatik hanya diteruskan secara turun temurun dalam keluarga. Perajin tidak memiliki pengetahuan tentang pemasaran, pembukuan, serta hal penting lainnya untuk mengelola usaha yang berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut, Rumah SukkhaCitta direncanakan memberikan pelatihan menyeluruh pada perajin yang dapat datang dari seluruh Indonesia. Pembangunannya menjadi bagian dari harapan SukkhaCitta memberdayakan 1000 perajin di seluruh Indonesia.

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu