Kiat Investasi Bagi Investor Muda Saat Resesi Ekonomi

100

Bagi investor muda yang baru mulai berinvestasi, adanya potensi resesi ekonomi global bisa menjadi momok yang menakutkan. Tapi jangan sampai prediksi resesi ekonomi global membuat kamu berhenti untuk berinvestasi. Asalkan investasi dikelola dengan cermat, risiko investasi di tengah resesi bisa diminimalisir.

Memasuki tahun 2020, sejumlah analis dan pengamat ekonomi memprediksi adanya resesi ekonomi di beberapa negara di dunia seperti Jerman, Inggris, Italia, Meksiko, Brasil, Argentina, Singapura, Korea Selatan, dan Rusia. Amerika Serikat (AS) sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia juga tak lepas dari ancaman resesi. Salah satunya ditandai dengan fenomena kurva imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS terbalik (inverted) di mana yield obligasi jangka pendek menjadi lebih tinggi dibandingkan obligasi jangka panjang.

AS sendiri sudah beberapa kali mengalami resesi ekonomi yakni pada tahun 1981, 1990, 2001 dan 2008. Ironisnya, resesi AS selalu berdampak secara global, termasuk ke negara berkembang seperti Indonesia.

Baca juga: Harga Saham Turun Tajam? Tetap Tenang dan Coba Tips Ini

Potensi resesi ekonomi memang ada, tapi tak perlu panik berlebihan dan berhenti berinvestasi. Berikut ini beberapa tips cerdas menghadapi resesi yang bisa diterapkan oleh para investor muda:

Terapkan strategi defensif

Saat pasar bullish, kamu bisa berinvestasi secara agresif pada instrumen investasi yang berpotensi memberikan keuntungan tinggi. Namun dalam situasi pasar bearish akibat resesi ekonomi,  sangat tidak disarankan untuk menjalankan strategi investasi agresif. Untuk menjaga aset yang dimiliki, investasi yang kamu lakukan harus bersifat defensif.

Jangan terburu nafsu untuk berinvestasi full power pada instrumen berisiko tinggi demi mengejar keuntungan yang besar. Tapi berinvestasilah pada aset yang lebih tahan terhadap gejolak ekonomi meskipun tingkat keuntungan yang bisa dihasilkan sedang atau bahkan kecil.

Jika berinvestasi pada instrumen investasi saham, kamu bisa memilih sektor saham defensif seperti di segmen makanan, perlengkapan rumah, perawatan kesehatan, utilitas, dan real estat. Konsumen akan tetap membutuhkan produk dari sektor tersebut meskipun tengah terjadi resesi ekonomi.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Dengan permintaan yang tetap tinggi, perusahaan-perusahaan di sektor tersebut mampu bertahan menghadapi masa ekonomi yang sulit. Jadi kinerja saham-saham defensif akan mampu mengungguli saham-saham sektor lainnya selama resesi ekonomi.

    Jangan terburu-buru jual semua aset

    Pasar modal mungkin bergerak tak sesuai harapan. Serbuan sejumlah sentimen negatif bisa menggerus nilai investasimu. Bukannya untung, nilai investasimu bisa jadi menurun saat terjadi resesi ekonomi. Dalam situasi ini, kamu tidak boleh panik dan buru-buru melepas semua koleksi investasimu.

    Jika harga terus menurun, kerugian pasti tak bisa dihindari sehingga kamu berpikir untuk melakukan cut loss. Meskipun begitu, jika terburu-buru menjual aset, kamu akan kehilangan kesempatan untuk menjual di harga terbaik. Sebab, sekalipun berada di tengah tren penurunan harga, biasanya selalu muncul kesempatan untuk menjual aset saat harga naik sehingga tingkat kerugian bisa dikurangi.

    Baca juga: Investor Newbie, Ini Rahasia Warren Buffet yang Wajib Kamu Tahu

    Jangan lupakan juga bahwa setiap penurunan harga akan selalu diikuti dengan kenaikan harga. Jika kamu telah melakukan investasi dengan benar sejak awal dengan menghitung valuasi wajar atas aset investasi yang dibeli, maka ada potensi kenaikan harga yang akan terjadi saat kondisi pasar pulih.

    Bisa jadi potensi keuntungan yang akan diperoleh jauh lebih besar dari tingkat kerugian yang harus ditanggung jika kamu melakukan cut loss. Jadi dengan perhitungan yang matang, tidak ada salahnya kamu bertahan dan bersabar saat harga turun, sambil menunggu harga kembali naik di masa yang akan datang.

    Lakukan penyeimbangan risiko tinggi dan rendah

    Jangan taruh telur dalam satu keranjang, karena ketika keranjang jatuh semua telur akan pecah. Nasihat tersebut juga sangat cocok diterapkan dalam berinvestasi di tengah krisis ekonomi. Untuk mencegah kerugian yang besar, sebaiknya kamu melakukan diversifikasi portofolio. Jangan menaruh dana investasi di satu instrumen saja, tapi beberapa instrumen investasi sekaligus.

    Selain itu, kelola risiko investasinya dengan baik. Jangan menempatkan dana hanya pada produk investasi berisiko tinggi. Lakukan investasi dengan seimbang pada produk investasi berisiko tinggi dan juga produk investasi yang berisiko rendah. Meskipun imbal hasil yang diperoleh cenderung kecil, tapi investasi pada produk berisiko rendah akan menjaga nilai asetmu saat terjadi gejolak di pasar modal.

    Berlindung pada safe haven

    Aset safe haven merupakan aset investasi dengan tingkat risiko rendah dan menjadi tempat berlindung ketika terjadi resesi global atau gejolak geopolitik. Ada sejumlah aset safe haven yang kerap dipilih oleh investor seperti emas, surat utang AS, dolar AS, yen Jepang dan franc Swiss.

    Namun dari sekian banyak aset safe haven, emas atau logam mulia biasanya menjadi pilihan utama investor untuk melindungi asetnya di tengah ketidakpastian pasar. Sejak zaman dahulu, emas sudah dipergunakan melawan resesi global.

    Meskipun nilai pertumbuhan investasinya mungkin tidak terlalu tinggi, pertumbuhan harga emas bisa melebihi inflasi. Harga emas juga cenderung naik ketika tingkat inflasi naik.

    Secara konvensional, berinvestasi emas bisa dilakukan dengan membeli logam mulai dan menyimpannya. Lalu ketika harga sudah naik, kita bisa menjualnya dengan mudah. Sebagai instrumen investasi emas cukup likuid sehingga bisa dicairkan kapan saja ketika kita membutuhkan.

    Siapkan uang cash

    Saat pasar bullish, kamu bisa membelanjakan semua dana investasi pada produk investasi yang potensial. Tapi dalam kondisi pasar bearish, kamu sebaiknya bisa menahan diri. Sisakan uang cash sekitar 30% hingga 40% dari total dana investasimu.

    Baca juga: Ini Dia Investasi Kinclong untuk 2020

    Dana tersebut bisa dijadikan cadangan untuk membeli jika harga saham atau reksa dana sudah bergerak turun. Pembelian bisa dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus. Misalnya, kamu membeli saham potensial di saat harganya sudah menembus Rp200 per saham padahal harga wajarnya Rp300 per saham.

    Ketika harga saham tersebut turun lagi ke Rp180, kamu bisa melakukan pembelian berikutnya. Jika harga terus bergerak turun ke Rp160, pembelian bisa kembali dilakukan dan begitu seterusnya.

    Dengan uang tunai yang tersedia, kamu bisa memanfaatkan momentum penurunan harga. Kelak saat harga produk investasimu kembali pulih, kamu akan menikmati cuan secara optimal.

    Dengan sejumlah tips investasi tersebut, sebagai investor muda kamu tidak perlu panik lagi ketika berhadapan dengan resesi ekonomi. Sebaliknya, kamu tetap bisa memanfaatkan momentum sulit tersebut untuk meraih keuntungan.

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu