Bingung Beli Saham Apa? Simak Empat Saham Pilihan Ini

93

Tahun baru merupakan awal pembukuan perusahaan-perusahaan, termasuk perusahaan yang memiliki saham dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mereka memiliki rencana kerja dan anggaran perusahaan yang akan berdampak pada kinerja perusahaan selama setahun. 

Baca juga: Tips Memilih Saham untuk Pemula

Selain itu kinerja perusahaan juga dipengaruhi faktor luar seperti kebijakan pemerintah, nilai kurs mata uang asing, dan faktor alam. 

PT Valbury Sekuritas Indonesia melakukan riset dan melihat prospek kinerja empat emiten di BEI yang kebetulan semuanya merupakan Badan Usaha Milik Negara. Pemilihan saham keempat emiten ini didasarkan pada pertimbangan risiko fundamental, risiko likuiditas,  dan risiko pasar. Berikut pemaparannya. 

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

PT Valbury Sekuritas Indonesia memandang positif BBRI terutama terkait fokus pemerintah untuk mendorong penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Keberadaan cabang-cabang BRI yang menjangkau hingga daerah pelosok di Indonesia menjadi salah satu pertimbangan pemerintah memilih BRI sebagai bank penyalur KUR terbesar.

Perseroan menargetkan pada tahun 2020 akan menyalurkan KUR  sebesar Rp120 triliun, naik 37,9% dari target penyaluran tahun ini Rp87 triliun.

Dengan partisipasi terbesar dalam subsidi KUR, maka BBRI akan dapat menawarkan loan price yang kompetitif ke pasar, sekaligus dapat mempertahankan net interest margin (NIM) yang tertinggi di antara bank-bank yang masuk kategori BUKU IV. 

Bank yang masuk kategori BUKU IV adalah bank dengan pemodalan sangat besar, yaitu modal inti lebih dari Rp30 triliun. Saat ini hanya ada enam bank yang masuk kategori ini yaitu BCA, BRI, BNI, Bank Mandiri, CIMB Niaga, dan Bank Panin.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Kebijakan penyaluran KUR tersebut diharapkan akan mendongkrak laba BRI yang melandai jelang akhir tahun lalu. Di kuartal ketiga 2019 bank terbesar di tanah air ini cuma mencatat pertumbuhan laba sebesar 5,36% (yoy) dengan nilai Rp24,80 triliun.

    Pertumbuhan tersebut tercatat lebih kecil dibandingkan yang diraih pada Juni 2019 sebesar 8,19% (yoy) dengan nilai Rp16,16 triliun. Hal ini disebabkan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL Gross) BRI meningkat dari 2,54% di kuartal III-2018 menjadi 3,08% di kuartal III-2019. 

    Baca juga: Trading Forex dan Saham Apa Perbedannya?

    Valbury menilai fundamental BBRI cukup menarik, terutama dari permodalan dan loan yield yang cenderung lebih tinggi. 

    PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 

    Selain Bank Rakyat Indonesia, Valbury Sekuritas Indonesia juga merekomendasikan bank pemerintah lainnya, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Menurut Valbury, kekuatan BMRI berada pada kredit korporasi dengan porsi yang besar serta Current Account and Saving Account (CASA) yang relatif tinggi. 

    Bank pelat merah ini juga fokus mengembangkan digitalisasi perbankan. Di sisi upaya perbaikan aset, terlihat hasil yang  menggembirakan dengan rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) yang terus menunjukkan penurunan. Di tahun 2018 Bank Mandiri Tbk bersih-bersih kredit bermasalah yang membuat NPL gross turun dari 3,46% menjadi 2,75%, lalu turun lagi menjadi 2,5% per September 2019.

    NPL Bank Mandiri turun signifikan terutama karena manajemen melakukan pergeseran fokus kredit. Bank Mandiri kini lebih fokus ke segmen korporasi, mikro, dan konsumer dibandingkan dengan segmen komersial dan SMI.

    Dengan besarnya nasabah korporasi BMRI, maka menciptakan value chain untuk kredit konsumer berbasis payroll yang lebih rendah risiko.

    PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)

    Valbury Sekuritas Indonesia menyatakan di tahun ini perusahaan jasa konstruksi BUMN ini akan mendapatkan kontribusi yang meningkat dari proyek-proyeknya di luar negeri. Hal ini disebabkan adanya diversifikasi kontrak luar negeri terutama untuk Asia Tenggara dan Afrika yang akan berdampak positif terhadap margin.

    Kendati demikian pendanaan proyek luar negeri dianggap dapat berisiko karena faktor dolar. Untungnya, WIKA sudah mengantisipasi hal ini melalui kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam program NIA. LPEI dengan sokongan dari pemerintah dapat meminimalisir risiko perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor. 

    Selain diversifikasi kontrak luar negeri, WIKA secara jangka panjang juga akan melakukan diversifikasi ke produk hilir atau produk turunan dari jasa konstruksi. Kebijakan ini diaplikasikan melalui anak usaha WIKA yaitu Wika Realty yang bergerak di sektor properti dan perumahan untuk meningkatkan margin. Diversifikasi produk WIKA antara lain berupa pembangunan transit oriented development (TOD) dekat stasiun transportasi massal untuk memperbesar pendapatan berulang (recurring income), sehingga pendapatan perusahaan akan lebih stabil. 

    Pada 2020, Valbury melihat peluang WIKA untuk kembali menggarap proyek MRT fase 2 yang akan segera dimulai tahun ini.

    PT Jasa Marga Tbk (JSMR)

    Rampungnya sejumlah proyek jalan tol pemerintah pada tahun 2019 dan tahun 2020 akan mendongkrak pendapatan operator jalan tol ini. Selain itu, Valbury Sekuritas Indonesia menilai prospek kinerja Jasa Marga akan ditopang oleh beberapa faktor yakni kenaikan tarif tol rutin, pertumbuhan kendaraan terutama di pulau Jawa, dan penerapan sistem pembayaran elektronik sehingga memperbesar efisiensi.

    Baca juga: Harga Saham Turun Tajam? Tetap Tenang dan Coba Tips Ini!

    Semoga rekomendasi ini dapat membantu kamu dalam mempertimbangkan langkah investasi di awal tahun. Selamat berinvestasi! 

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu