Memilih Reksadana di Tengah Ketidakpastian Pasar

44

Tahun 2020 ketidakpastian pasar diprediksi masih berlanjut akibat berlarutnya negosiasi dagang antara AS dan Cina serta tertundanya Brexit. Namun, investor yang masih tertarik berinvestasi di reksa dana tetap dapat memilih reksa dana yang berpotensi memberikan keuntungan dengan sejumlah strategi. Berikut ini pemaparannya.

Baca juga: Kelebihan Reksadana Campuran 

Melihat tinjauan kinerja

Sepanjang tahun 2019 lalu reksa dana pendapatan tetap mencetak return atau imbal hasil yang tertinggi dibandingkan reksa dana saham, campuran, dan pasar uang. Menurut catatan PT Infovesta Utama selaku lembaga penyedia data dan informasi reksa dana, reksa dana pendapatan tetap (fixed income) menjadi jawara di tahun lalu karena mencetak return rata-rata sebesar 10,77 % selama setahun, disusul return rata-rata reksa dana pasar uang 5,87%, selanjutnya reksa dana campuran memberi return 3,08% sementara reksa dana saham minus 8,41%.

Kinerja cemerlang reksa dana pendapatan tetap terjadi di saat perlambatan ekonomi global. Akibat ketidakpastian politik melanda berbagai belahan dunia, terjadi volatilitas pasar dan mandeknya harga aset berisiko seperti saham karena investor memilih aset yang lebih aman, semisal obligasi.

“Reksa dana pendapatan tetap menjadi yang terbaik lebih karena terkait penurunan suku bunga,” jelas Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana.

Penurunan suku bunga secara global terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa, sementara yield surat utang negara (SUN) berjangka waktu 10 tahun berkisar di 7%. Angka ini jauh di atas yield US Treasury berjangka waktu 10 tahun yang berkisar di angka 1,7%. Oleh karena itu, banyak investor asing membeli SUN yang membuat harga obligasi meningkat.     

Di dalam negeri sendiri, Bank Indonesia menurunkan bunga acuan reverse repo sebanyak empat kali, dari 6% menjadi 5%. Di tengah ketidakpastian, investor mencari aset yang aman namun memberi return tetap seperti surat utang yang menjadi aset utama reksa dana pendapatan tetap. Karena bunga bank turun, bunga deposito ikut turun sementara investor mencari instrumen keuangan yang aman seperti deposito namun memberi bunga yang lebih besar. Para investor pun umumnya memilih surat utang.             

 Pengaruh penurunan suku bunga        

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

    Untuk tahun 2020 ini, Wawan memprediksi kinerja reksa dana pendapatan tetap paling optimal berdasarkan tingkat risiko dan return karena suku bunga global diperkirakan masih akan turun.

    Risiko global masih berlanjut, seperti perang dagang AS-Cina yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global, terkatungnya proses Brexit dan terbaru adalah konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran. Perlambatan ekonomi dan isu perang dagang membuat pendapatan emiten menurun sepanjang tahun lalu

    Sementara itu, tahun ini negosiasi dagang AS-Cina masih berjalan dan menunjukkan tanda-tanda perdamaian, keluarnya Inggris dari Uni Eropa akhir Januari diperkirakan melalui cara baik-baik, serta konflik antara Iran dan AS telah bergeser dari isu geopolitik.

    Wawan mengatakan potensi pada reksa dana saham tetap ada walaupun di tahun 2019 kinerjanya jeblok. Laba emiten atau perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini diproyeksikan akan tumbuh di kisaran 8-10%, lebih tinggi dari tahun 2019. Proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik dan kondisi eksternal yang stabil jadi stimulus positif. Sementara PER emiten akan berada di kisaran 17-18 kali.

    Jika Manajer Investasi jeli, maka beberapa sektor akan menunjang kinerja reksa dana saham seperti sektor keuangan, telekomunikasi, properti, batu bara, dan saham-saham emiten produsen CPO (crude palm oil -minyak kelapa sawit mentah).  

    Sektor keuangan terkait suku bunga turun, sektor telekomunikasi karena laporan keuangan yang baik, sedangkan sektor properti karena valuasi sangat murah dan seusai pilpres penjualan mulai meningkat.

    Sementara itu, sektor batu bara akan ikut terkerek naik karena kenaikan harga minyak akibat konflik AS-Iran di Timur Tengah. Untuk CPO, kebijakan pemerintah yang mewajibkan kandungan CPO pada solar sebesar 30% (B30 dari sebelumnya B20) akan menopang kinerja perusahaan perkebunan kelapa sawit.  

    Baca juga: Ragam Manfaat Reksadana Pasar Uang

    Dollar cost averaging

    Jika ingin memilih reksa dana saham, Infovesta menyarankan agar investor menggunakan strategi dollar cost averaging, masuk bertahap setiap bulan. Jangan lupa juga untuk melakukan diversifikasi.

    “Disarankan menggunakan alokasi aset 5-3-2 , 50% pada reksa dana berbasis obligasi, 30% pada reksa dana pasar uang dan 20% pada reksa dana saham,” urainya.

    Wawan menyebutkan di pasar modal masih banyak aset aman dan likuid seperti ORI dan reksa dana pasar uang. Wawan tidak menyarankan investor beralih ke emas karena harganya cenderung volatil dan fee-nya besar, sedangkan properti kurang likuid. 

    Baca juga: Yuk Kenalan dengan Reksadana Pendapatan Tetap

    Jadi, di tengah ketidakpastian pasar dan gejolak kondisi ekonomi global, kamu tidak perlu berhenti berinvestasi bukan?

    Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu