Momentum Stock Split dan Peluang Cuan Bagi Investor

164

Sejumlah emiten memutuskan untuk melakukan pemecahan nilai nominal saham atau stock split. Aksi korporasi ini bahkan bisa dilakukan oleh emiten lebih dari satu kali.  Kenali potensi dan risikonya agar momentum ini bisa dimanfaatkan oleh investor untuk meraih cuan.

Awal tahun 2020, pasar saham domestik diramaikan dengan stock split PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Pemecahan saham ini menarik perhatian investor karena UNVR merupakan saham dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar keempat di Indonesia.

Selain UNVR, saham emiten dengan kapitalisasi pasar paling besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mempertimbangkan aksi serupa di tahun 2020. Meskipun rencana stock split BBCA masih sumir, namun informasi tersebut sempat membuat pelaku pasar bergairah.

Saham BBCA tercatat sudah tiga kali melakukan aksi ini, yakni pada 15 Mei 2001 dengan rasio 1:2, 8 Juni 2004 dengan rasio 1:2 dan 31 Januari 2008 dengan rasio 1:2. Beberapa saham big caps lain juga pernah melakukan seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). 

Informasi pemecahan saham big caps selalu menarik perhatian investor ritel karena akan memudahkan mereka dalam membeli saham tertentu yang selama ini diincar. Jika kamu tengah ingin mencari cuan dengan memanfaatkan momentum ini sebaiknya pahami peluang dan efek dari pemecahan harga saham ini.

Apa itu stock split?

 

Stock split atau pemecahan saham adalah aksi korporasi yang dilakukan emiten dengan melakukan pemecahan saham secara proporsional sehingga jumlah sahamnya menjadi lebih banyak dengan nilai nominal per saham yang lebih rendah.

Sebagai contoh, UNVR melakukan ini dengan rasio 1:5 pada 2 Januari 2020. Artinya setiap satu saham akan dipecah menjadi lima saham. Pada akhir tahun lalu, harga saham UNVR senilai Rp42.000 per saham. Setelah pemecahan saham pada 2 Januari 2020, harga saham UNVR menciut menjadi Rp8.400 per saham.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Tips Memilih Saham IPO untuk Investor Pemula

Sebaliknya, pemecahan saham akan membuat jumlah saham yang beredar meningkat. Setelah ini jumlah saham UNVR yang dicatatkan di BEI meningkat menjadi 38,15 miliar saham, dari sebelum pemecahan saham sebanyak 7,63 miliar saham.

Dalam contoh kehidupan sehari-hari, pemecahan saham dapat digambarkan dengan menukarkan uang kertas nominal besar menjadi sejumlah uang kertas lain dengan nilai nominal lebih kecil. Misalnya, uang kertas Rp100.000 dipecah menjadi lima mata uang dengan nilai lebih kecil masing-masing Rp20.000. Pemecahan tersebut membuat nilai mata uang mengecil tapi jumlah uang kertasnya bertambah jadi lima lembar.

Kebalikan dari ini adalah reverse stock split. Dalam aksi korporasi ini, emiten melakukan penggabungan nilai nominal saham menjadi lebih besar, sedangkan jumlah saham yang beredar menjadi lebih sedikit.

Alasan emiten melakukan pemecahan saham

Emiten yang melakukan pemecahan saham harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun dengan berbagai alasan, mereka rela melakukannya. Berikut ini dua alasan utama emiten memecah harga sahamnya:

  1. Harga saham sudah kemahalan

Alasan utama emiten melakukan pemecahan saham adalah harga saham yang sudah terlalu mahal. Dengan harga saham yang mahal, investor yang dapat membeli saham tersebut semakin sedikit. Hanya investor besar yang sanggup membeli saham dengan harga tinggi. Sedangkan investor ritel hanya mampu membeli saham dengan harga yang masih rendah sesuai kemampuannya.

Nah, agar investor ritel bisa bertransaksi saham big caps yang harganya sudah kemahalan, maka emiten harus melakukan pemecahan saham. Setelah saham dipecah dan harganya menjadi lebih murah, investor ritel akan lebih mudah menyerap saham tersebut.

Baca juga: Cari Berkah Lewat Saham Syariah

Kelak jika harga saham tersebut terus tumbuh dan menjadi mahal lagi, emiten akan kembali melakukan pemecahan saham. Pada contoh saham UNVR, pemecahan saham sudah dilakukan tiga kali yakni pada 6 November 2000 dengan rasio 1:10, 3 September 2003 dengan rasio 1:10 dan terbaru pada 2 Januari 2020 dengan rasio 1:5.

  1. Saham kurang likuid

Sejumlah emiten melakukan aksi pemecahan saham karena saham yang kurang likuid. Harga yang sudah terlampau mahal menjadi salah satu alasan saham tersebut jarang ditransaksikan di bursa. Oleh sebab itu, emiten berharap pemecahan harga saham dapat meningkatkan minat investor untuk melakukan aksi jual dan beli saham tersebut.

Dengan harga yang menjadi lebih terjangkau, semestinya akan terjadi peningkatan perdagangan saham. Hal tersebut membuat likuiditas saham yang telah melakukan hal ini meningkat di bursa saham.

Kiat memanfaatkan momentum

Investor ritel dapat memanfaatkan momentum stock split untuk masuk ke saham big caps yang harganya sudah menjadi lebih murah. Agar investasi yang dilakukan dapat menghasilkan keuntungan yang optimal, cermati kiat-kiat investasi pemecahan saham berikut ini:

  1. Stock split tidak pengaruhi harga saham secara langsung

Aksi ini tidak menjamin bahwa harga saham emiten tersebut akan naik. Pergerakan harga saham tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti fundamental perusahaan, tren sektor saham, tren pasar global, dan faktor eksternal lainnya.

sebagai contoh, akibat pemecahan saham UNVR awal tahun ini, pergerakan harga sahamnya hingga awal Februari ini malah menurun. Pada awal stock split, harga saham UNVR dibuka senilai Rp8.400 per saham. Sedangkan pada 7 Februari 2020, harga saham UNVR berada di level Rp7.900 per saham atau turun 5,95% secara year to date (ytd).

Pergerakan saham UNVR sejalan dengan tren pasar yang terjadi awal tahun ini. Ini terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 4,59% secara ytd menjadi 5.999,61 pada 7 Februari 2020.

Baca juga: Harga Saham Turun Tajam? Tetap Tenang dan Coba Tips Ini

  1. Perhatikan fundamental dan prospek saham

Sebelum berinvestasi pada pemecahan saham telitilah terlebih dahulu saham yang akan dibeli. Pertimbangan utama pembelian saham tersebut harus berdasarkan pada fundamental perusahaan dan prospek saham ke depan. Kendati demikian, faktor teknikal juga bisa dicermati. Jika sebelum stock split harga saham sudah dalam posisi uptrend, biasanya setelah ini harganya masih akan uptrend. Tren kenaikan harga saham biasanya sudah sejak dua bulan sebelum split.

  1. Akumulasi kepemilikan jika prospek jangka panjang menarik

Apabila kamu melihat emiten yang melakukan pemecahan saham tersebut memiliki kondisi fundamental dan prospek yang baik, maka ada peluang kamu melakukan akumulasi kepemilikan saham tersebut. Tapi ingat, tujuan investasinya harus jangka panjang. Jika fundamental sahamnya bagus, harga saham tersebut dalam jangka panjang sangat pontensial untuk naik.

Demikian ulasan tentang pemecahan saham  dan kiat investasinya bagi investor ritel. Setelah membaca artikel ini, semoga kamu bisa memanfaatkan momentum ini secara tepat. 

 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu