Panduan Investasi Saham Jangka Panjang yang Wajib Kamu Tahu

121

Panduan investasi saham diperlukan untuk pasar saham penuh dengan ketidakpastian. Oleh karena itu sebagian investor mencoba menghindari volatilitas pasar dengan berinvestasi dalam jangka panjang.

Beberapa investor mengunci keuntungan dengan menjual saham yang nilainya terus menanjak, sambil memegang saham berkinerja buruk yang mereka harap akan rebound. Namun, saham yang baik dapat naik lebih jauh dan saham yang buruk berisiko punya kinerja nol atau tidak pernah rebound lagi.

Baca juga: Ini Kiat Investasi untuk Pemula

Bagaimana sebaiknya berinvestasi jangka panjang melalui saham? Informasi berikut dapat menjadi panduan investasi saham kamu:

Membeli saham pemenang

Beberapa saham menunjukkan kenaikan harga tiap tahunnya dalam jangka panjang, seperti Unilever Indonesia (UNVR), Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan lain-lain. Harus diakui jumlah saham yang demikian hanya sedikit, namun mereka dipastikan merupakan saham blue chips karena likuid dan menjadi dambaan para investor. Kendati demikian, strategi ini membutuhkan disiplin investor untuk bertahan menyimpan saham bahkan setelah harga saham blue chip tersebut meningkat berkali-kali, jika masih ada potensi kenaikan signifikan.

Panduan investasi saham untuk jual saham pecundang

Tidak ada jaminan bahwa saham akan rebound setelah penurunan berkepanjangan dan penting untuk bersikap realistis tentang prospek investasi yang berkinerja buruk. Segera jual saham ini kendati kamu mengalami kerugian. Jangan malu mengakui kesalahan dan menjual investasi untuk membendung kerugian lebih lanjut. Baik dalam strategi membeli saham blue chip atau menjual saham pecundang, penting untuk menilai perusahaan berdasarkan kemampuan mereka, untuk menentukan apakah harga membenarkan potensi masa depan.

Jangan langsung mempercayai sebuah rekomendasi

Terlepas dari sumbernya, jangan pernah menerima info rekomendasi saham sebagai hal yang valid. Selalu lakukan analisis sendiri pada sebuah perusahaan, sebelum menginvestasikan uang kamu dengan susah payah. Rekomendasi dari suatu sumber terkadang membawa keberhasilan, namun kesuksesan jangka panjang menuntut penelitian mendalam.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Baca juga: Kelebihan Reksa Dana Campuran Sebagai Produk Investasi

Jangan panik menghadapi volatilitas sesaat

Daripada panik melihat pergerakan jangka pendek investasi, lebih baik melacak lintasan gambaran besarnya. Percayalah pada keseluruhan gambaran dunia investasi yang lebih besar dan jangan terpengaruh oleh volatilitas jangka pendek.

Jangan terlalu menekankan perbedaan harga beberapa rupiah yang terjadi saat pasar volatil. Trader aktif menggunakan fluktuasi harga dari menit ke menit untuk mengunci keuntungan. Tetapi investor jangka panjang mendapatkan cuan berdasarkan periode waktu yang berlangsung bertahun-tahun atau lebih.

Jangan terlalu fokus pada rasio P/E

Investor sering mementingkan price to earning ratio (rasio P/E), tetapi sebaiknya kamu tidak hanya mengandalkan satu metode analisis. Rasio P/E paling baik digunakan bersama dengan proses analitik lainnya. Oleh karena itu rasio P/E yang rendah tidak selalu berarti sebuah saham dinilai rendah, begitu pula rasio P/E yang tinggi tidak berarti perusahaan dinilai terlalu tinggi.

Pilih strategi dan konsisten menggunakannya

Ada banyak cara untuk memilih saham dan penting untuk tetap berpegang pada filosofi tunggal. Menggunakan berbagai pendekatan yang berbeda dapat membahayakan investasimu. Pertimbangkan bagaimana investor terkenal, Warren Buffett, berpegang teguh pada strategi yang berorientasi pada nilai dan menghindari booming dotcom di akhir tahun 1990-an.

Buffet hanya percaya pada Apple dan IBM, saham yang dipegang perusahaan investasi Berkshire. Dia berpandangan harga saham teknologi tidak stabil. Keputusannya tepat karena beberapa perusahaan dotcom jatuh nilai sahamnya seperti Yahoo!.

Fokus pada masa depan

Investasi memerlukan pengambilan keputusan berdasarkan informasi berdasarkan hal-hal yang belum terjadi. Data masa lalu dapat menunjukkan hal-hal yang akan datang, tetapi tidak pernah menjamin keuntungan.

Dalam buku One Up on Wall Street, Peter Lynch trader sukses di Wall Street menyatakan, “Jika saya¬† tidak malas bertanya pada diri sendiri, ‘Bagaimana saham ini bisa lebih tinggi?’ saya tidak akan pernah membeli saham Subaru setelah harganya sudah naik dua kali lipat. Tetapi saya memeriksa fundamentalnya, sadar bahwa valuasi Subaru masih murah, lalu membeli saham tersebut, dan ternyata kemudian harganya naik tujuh kali lipat setelah itu.” Penting untuk berinvestasi berdasarkan potensi masa depan versus kinerja masa lalu.

Berpikiran terbuka

Banyak investor fokus pada perusahaan besar yang sudah memiliki brand terkenal. Namun kita juga harus tahu bahwa ada ribuan perusahaan kecil memiliki potensi untuk menjadi perusahaan besar dan sahamnya akan menjadi saham blue chip di masa depan.

Faktanya, saham dengan kapitalisasi kecil secara historis menunjukkan pengembalian yang lebih besar daripada saham dengan kapitalisasi besar. Dari tahun 1926 hingga 2001, saham-saham kapitalisasi kecil di AS memberikan return rata-rata 12,27% sedangkan Indeks 500 Standard & Poor (S&P 500) imbal hasilnya hanya 10,53%.

Baca juga: Langkah Sederhana Mulai Berinvestasi Saham

Bagaimana, siap menerapkan panduan investasi saham jangka panjang?

 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu