Reksa Dana Terproteksi: Alternatif Investasi di Masa Pandemi Corona

197

Sebagai imbas dari pandemi corona, Bank Indonesia menurunkan bunga acuan pada pertengahan Februari lalu. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Februari 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen, suku bunga deposit facility 25 bps menjadi 4 persen dan suku bunga lending facility 25 bps menjadi 5,5 persen.

Menurut BI, kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang aman, serta sebagai langkah antisipasi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya wabah pandemi corona atau Covid-19

Baca juga: Kiat Tetap Semangat Investasi Saat Corona

Kebijakan BI ini disinyalir berdampak positif terhadap kinerja reksa dana, khususnya reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana terproteksi.

Diversifikasi ke obligasi

Analis Pendapatan Tetap PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan kemungkinan akibat penurunan bunga BI akan menyebabkan perpindahan dana dari deposito ke obligasi. “Kemungkinannya begitu, diversifikasi utamanya ke obligasi,” ujarnya.

Ketika suku bunga turun, maka yield (imbal hasil) surat utang negara akan turun, yang berarti menandakan harganya akan naik. Hal ini akan menguntungkan reksa dana yang berisi surat utang, seperti reksa dana pendapatan tetap karena nilai aktiva bersih (NAB) akan ikut naik.

Reksa dana terproteksi yang juga beraset dasar obligasi diperkirakan juga akan mendapatkan efek positif  dari penurunan suku bunga acuan. Hal tersebut setidaknya sudah mulai terlihat dari bertambahnya dana kelolaan reksa dana terproteksi di bulan Januari 2020 sebesar Rp794,85 miliar menjadi Rp151,57 triliun dibandingkan akhir Desember 2019 Rp150,77 triliun. Seperti kita ketahui, di tahun lalu BI menurunkan bunga hingga empat kali.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

“Untuk yang tidak aktif ditransaksikan tentu akan lebih aman (dari gejolak pasar),” imbuh Ahmad.

Reksa dana terproteksi merupakan jenis reksa dana yang memberikan proteksi atas nilai investasi awal apabila pemegang unit penyertaan memegang reksa dana tersebut hingga tanggal jatuh tempo melalui mekanisme pengelolaan portofolio investasi. 

Secara kebijakan, reksa dana terproteksi pada dasarnya hampir sama dengan reksa dana pendapatan tetap, yaitu menempatkan sebagian besar portofolio investasinya pada instrumen surat utang. Perbedaannya terletak pada cara mekanisme pengelolaannya.

Manajer investasi reksa dana terproteksi membeli surat utang dan menahannya hingga jatuh tempo (hold to maturity), sementara reksa dana pendapatan tetap dikelola secara aktif dan jika diperlukan, bisa diperjualbelikan (trading).

Ada kemungkinan investor berbondong-bondong memburu reksa dana terproteksi selagi indikasi kuponnya masih relatif tinggi. Maklum saja, pemotongan suku bunga acuan akan memicu turunnya yield Surat Utang Negara (SUN) dalam beberapa waktu ke depan.

Ahmad menerangkan kupon obligasi korporasi dengan rating AA saat ini di 7,75% sementara yield surat utang negara tenor 10 tahun yang menjadi acuan para investor, di angka 6,97%. Jika dibandingkan bunga deposito tertinggi untuk tenor satu tahun hanya 5,9%, maka membeli surat utang tentu menguntungkan daripada menempatkan dana di deposito.

Baca juga: Panduan Investasi Jangka Panjang yang Wajib Kamu Tahu

Tidak sepanik pasar saham saat pandemi corona

Ahmad meyebutkan ada dana asing keluar dari pasar obligasi. Tercatat sejak akhir Januari hingga 10 Maret lalu  jumlah dana yang keluar dari pasar surat utang mencapai Rp45,6 triliun. Hal ini senada dengan pasar saham yang mengalami net sell dana asing.

“Asing melakukan net sell sebesar itu namun tentu tidak terlalu terpengaruh karena jumlah dana sebesar itu, kecil dibandingkan total surat utang negara yang mereka kuasai, lebih dari  1000 triliun,” tuturnya.

Ahmad mengakui ada penurunan indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) sejak pertengahan Februari karena kepanikan investor terhadap penanganan wabah virus corona di Indonesia, namun secara year to date masih positif 2%.

Hal ini berbeda dengan indeks harga saham gabungan (IHSG). Sejak wabah pandemi corona merebak, investor pasar saham  panik, tercermin dari aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan turun hingga ke 4650, padahal di akhir Januari masih di atas 6050  dan di awal tahun berada di level 6283.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu