Alain Bunjamin: Menganyam Sejahtera Bersama Perajin Bambu Tasikmalaya

109
Alain Bunjamin

Berawal dari keinginan memperbaiki taraf hidup perajin bambu, Alain Bunjamin (27) kini menjadi pengusaha sukses memasarkan kerajinan dari anyaman bambu.

Baca juga: Sanjung Sari: Mempromosikan Indonesia Lewat Sancraft

Alain Bunjamin, Co-founder dan CEO Studio Dapur adalah wirausahawan sosial berbasis desain. Alain mendirikan Studio Dapur pada 2016 bersama dua temannya dari jurusan Desain Produk Institut Teknologi Nasional Bandung, yakni Maulana Fariduddin Abdulah dan Mega Pitriani Puspita. 

Nama Studio Dapur dipilih karena kegemaran ketiganya di dunia kuliner dan membuat mereka kerap menghabiskan waktu di dapur. Bagi mereka, dapur lebih dari sekadar ruang masak. Dapur salah satu tempat membangun ikatan sosial, selain meramu dan memasak makanan.

Nasib perajin bambu tradisional menjadi keprihatinan mereka bertiga. Mereka sering bertemu dengan perajin dan tukang bambu asal Tasikmalaya di dekat kampus mereka dan melihat langsung fakta tentang kesejahteraan perajin bambu yang di bawah rata-rata perajin produk-produk lain.

Harga per satuan yang rendah menjadi penyebab rendahnya kesejahteraan perajin anyaman bambu ini, Hal ini karena kualitasnya yang rendah, baik dari bahan baku maupun desain. Desainnya tidak berkembang dari zaman ke zaman, 

“Sebagai desainer saya sedih melihat kualitas produknya, mulai kualitas bahan sampai kualitas desainnya, bentuknya. Itu stagnan, puluhan tahun tidak berkembang. Bentuk yang sama, sampai di foto zaman Belanda itu dulu juga ada bentuk yang sama. Kok tidak berkembang, membosankan banget,” kata Alain pada kbr.id. 

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Harga naik berkali lipat

Mereka pun mulai membina para perajin di Tasikmalaya. Di sana bahan baku kerajinan bambu berlimpah karena luasnya kebun bambu dan banyak perajin tradisional di sana.

Dengan melakukan desain ulang berbekal ilmu yang dipelajari dari kampusnya, Alain dan Studio Dapur berhasil menciptakan barang-barang yang makin bervariasi, lebih halus, dan berkelas. Dari tempat buah atau kue, tudung saji, baki, wadah multifungsi, tatakan minuman hingga tempat sumpit.

Perajin juga diajari teknik-teknik baru menganyam, seperti anyaman dadu yang berbentuk tiga dimensi yang berasal dari Australia. Mereka juga kerap melakukan eksperimen dengan mencoba desain baru. Meski berkali-kali gagal dalam usaha menciptakan produk dengan desain baru, Alain dan rekan-rekannya tidak menyerah. Saat berhasil, perjuangan mereka terbayar karena harga produk naik berkali-kali lipat. Seni dan desain artistik membuat harga jual meroket. Bakul nasi yang biasanya dijual seharga Rp30 ribu, kini dapat melesat jadi Rp250 ribu.

Baca juga: Tanya Larasati, Mompreneur Sukses Dari Bisnis Kartu Ucapan

Para perajin diberikan pemahaman bahwa produk yang baik itu harus kokoh, lurus, tidak kehitaman, dan tidak memiliki serat yang longgar. Pada akhirnya mereka menyadari  bahwa produk bambu memiliki nilai tinggi ketika dibuat dalam standar tinggi dan sepenuh hati. Produk mereka juga diklarifikasi aman untuk makanan karena tidak menggunakan bahan kimia seperti pemutih atau pernis untuk finishing. Untuk bahan yang lebih aman, mereka menggunakan finishing berbasis air.  

Karena menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dengan desain unik, pesanan mulai membanjiri Studio Dapur. Jika di awal Studio Dapur hanya bisa menjual sekitar 50 buah produk per bulan, kini penjualan bisa mencapai 400 buah per bulan. Itu pun banyak pesanan ditolak karena kapasitas produksi masih kecil.

Alain menyebutkan, pesanan biasanya datang dari pengusaha restoran atau hotel. Produk mereka bisa dibeli secara online melalui website www.studiodapur.com dan instagram @studio.dapur atau dibeli secara offline di Alun-Alun Indonesia, Mal Grand Indonesia, Urban Quarter Plaza Indonesia, Lio Gallery Kemang, Jakarta, dan salah satu galeri di Bali.

Mereka juga mengekspor produksi Studio Dapur ke Jepang, Belgia, Finlandia, Spanyol,  dan Singapura. Studio Dapur kini punya 50-an desain kerajinan bambu yang siap ditawarkan ke calon pembeli.

Mewariskan keterampilan

Alain Bunjamin

Alain juga sering mengajak perajin Studio Dapur untuk berkeliling mengunjungi sentra kerajinan bambu lainnya untuk belajar desain produk bambu yang lebih berkualitas. Untuk meningkatkan semangat para perajin, Studio Dapur memberi upah Rp500 ribu per minggu ke tiap perajin.  Janji pendapatan tetap telah menarik beberapa penduduk desa untuk fokus pada bambu.

Selain itu, perajin diikutsertakan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Bahkan, sepuluh persen saham Studio Dapur dibagikan pada para perajin sehingga mereka akan mendapat dividen tahunan.

Di samping meningkatkan kesejahteraan para perajin bambu, Alain dan rekan-rekannya di Studio Dapur pun memiliki misi melestarikan keterampilan mengolah bambu.  “Kalau tidak dibantu berkembang, skill-nya akan punah. Jadi kita cari cara agar keahlian ini bisa diteruskan, terutama untuk generasi yang lebih muda,” tutur Alain pada kbr.id.

Setelah terbukti produk olahan bambu bisa berdaya jual tinggi, kini mulai banyak generasi muda dari lingkungan perajin yang kembali tertarik menekuni keterampilan mengolah bambu. Ke depannya, Alain berharap Studio Dapur dapat memiliki kebun bambu sendiri sehingga lebih mudah memperoleh bahan baku untuk diolah.

Baca juga: Tiara Adikusumah, Dari Karyawan Jadi Pemilik Perusahaan kecantikan

Punya ide membangun wirausaha sosial serupa Alain dan teman-temannya? Mulai wujudkan, yuk!

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu