Indeks Saham yang Membantu Investor Pemula Berburu Dividen

132
indeks saham

Pada 18 Mei 2018 PT Bursa Efek Indonesia meluncurkan IDX High Dividend 20, sebuah indeks saham yang khusus berisi saham-saham perusahaan yang rajin membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.

Baca juga: A-Z Ragam Indek Saham di Indonesia

Anggota IDX High Dividend 20 adalah emiten yang membagikan dividen tunai dalam tiga tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.

Saham-saham ini juga  memiliki rata-rata harian nilai transaksi reguler untuk periode 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan terakhir masing-masing lebih besar dari Rp1 miliar.

Indeks IDX High Dividend 20 dipilih berdasarkan imbal hasil dividen, kriteria likuiditas, serta kapitalisasi pasar.

Metode penghitungan Indeks IDX High Dividend 20 menggunakan metode Capped Dividend Yield Adjusted Free-Float Market Capitalization Weighted. Indeks saham ini menggunakan nilai kapitalisasi pasar dan jumlah saham beredar di publik (free float) sebagai bobot dengan penyesuaian menggunakan imbal hasil, serta mengenakan batasan bobot dalam indeks paling tinggi untuk satu saham sebesar 15%.

Indeks saham cocok untuk pemula

indeks saham

Guntur Tri Haryanto seorang analis saham mengatakan indeks ini merupakan indeks investasi bagi investor yang tidak ingin berpikir rumit tentang fundamental perusahaan.

Karena itu indeks ini cocok untuk investor pemula yang belum mengetahui bagaimana menganalisa fundamental perusahaan. Juga cocok untuk investor yang tidak memiliki waktu untuk mengikuti perkembangan pasar atau tidak memiliki waktu untuk menganalisa fundamental perusahaan.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

“Dengan meluncurkan indeks ini, BEI membantu investor dengan menyeleksi saham-saham lewat syarat ketat, salah satunya emiten tersebut memberikan dividen yang stabil,” ujarnya. Pasalnya, tidak semua emiten memberikan dividen kepada pemegang saham karena merugi atau menahan seluruh laba untuk ekspansi. 

Lebih lanjut Guntur menjelaskan keuntungan dari investasi saham didapat dari dua hal, kenaikan harga atau capital gain dan dari pembagian dividen. Untuk investor yang fokus mencari saham yang memberikan dividen, indeks ini jelas membantu karena saat ini tercatat ada 677 emiten di Indeks Harga Saham Gabungan yang tentu perlu waktu lama memeriksa satu per satu saham mana yang memberikan dividen secara stabil.

Baca juga: Contek Panduan Investasi Saham Jangka Panjang

Kinerja stabil

Dari pengamatan Guntur, emiten yang terdaftar di indeks ini juga menunjukkan kinerja tahunan yang stabil sehingga terjadi kenaikan harga saham dalam jangka waktu setahun. Beberapa di antaranya bahkan sudah memecah harga saham atau stock split karena harga sahamnya sudah naik signifikan sehingga sulit dijangkau investor ritel.

Mengoleksi saham yang ada di indeks ini tentunya lebih nyaman karena secara historis harganya terbukti mengalami kenaikan dalam periode panjang. 

Jangka waktu investasi

indeks saham

Mengenai waktu mengoleksi saham di indeks saham ini, Guntur menjelaskan investor akan merasakan keuntungan jika dilakukan sebelum cum date atau tanggal pembagian dividen. Setelah cum date, investor akan merasakan keuntungan dari kenaikan harga indeks karena dividen akan diakumulasikan ke harga saham perusahaan.   

Jangka waktu berinvestasi di indeks ini yang ideal adalah minimal jangka menengah, yaitu 3 hingga 5 tahun. Jika dilihat sepanjang 2 tahun terakhir IHSG mengalami penurunan, namun di tahun ketiga mengalami rebound maka jangka menengah merupakan waktu ideal. Apalagi jika berinvestasi dalam jangka panjang, lebih  dari 5 tahun, akan semakin baik.

Jumlah ideal

indeks saham

Mengenai jumlah 20 saham di dalam indeks saham IDX High Dividen 20, Guntur menyebut sudah ideal karena jika melebihi jumlah tersebut investor akan sulit mengikuti perkembangan saham-sahamnya.

Baca juga: Inilah Pilihan Reksadana Saham yang Bisa Diperdagangkan

“Untuk kepemilikan saham individual, jumlah 20 sampai 30 saham sudah ideal dan investor masih bisa mengikuti. Kalau melebihi jumlah tersebut maka portofolio tersebut sudah kebanyakan,” pungkasnya.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu