Instrumen Investasi Potensial Saat Suku Bunga BI Turun

71

Selama dua bulan berturut-turut di awal tahun ini, suku bunga BI turun. Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan BI 7-day (Reverse) Repo Rate, hal tersebut dapat menekan imbal hasil instrumen simpanan. Dalam situasi ini, investor biasanya akan melirik instrumen investasi lain. Yuk, kita lihat prospek berbagai jenis investasi yang menjanjikan saat suku bunga BI turun.

Langkah BI memangkas suku bunga pada awal tahun ini dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Penurunan suku bunga dilakukan pertama kali pada 20 Februari 2020 yakni dari 5% menjadi 4,75%. Pada bulan berikutnya 19 Maret 2020, BI kembali menurunkan suku bunga menjadi 4,5%.

Penurunan suku bunga sudah dilakukan BI sejak tahun lalu. Pada tahun 2019, BI tercatat melakukan penurunan suku bunga acuan sebanyak empat kali secara berturut-turut dari bulan Juli hingga Oktober 2019 dari 6% menjadi 5%.

Langkah BI akan diikuti oleh perbankan dengan menurunkan bunga instrumen simpanan terutama deposito. Jadi, kamu yang berniat menempatkan dananya di deposito akan mendapatkan bunga yang lebih kecil dari bulan-bulan sebelumnya.

Nah, ketika suku bunga perbankan rendah biasanya orang cenderung memindahkan asetnya ke instrumen lain yang bisa memberikan imbal hasil lebih besar. Dalam situasi normal, langkah tersebut tentu tidak salah karena ada cukup banyak pilihan investasi lain yang menjanjikan.

Tapi situasi pasar modal global dan domestik saat ini sedang terpuruk. Jika salah membenamkan dana investasi saat kondisi bearish, malah bisa berujung pada kerugian. Jadi, pertimbangan  dalam memilih instrumen investasi di masa krisis ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Suku bunga BI turun: bukan saatnya agresif

Wabah Corona Covid-19 yang sudah menyebar ke lebih dari 100 negara dalam sekejap telah berubah menjadi krisis ekonomi global.  Krisis yang terjadi saat ini, menurut perencana keuangan Pandji Harsanto sebenarnya merupakan siklus 10 tahun sekali yang sudah diprediksi sebelumnya.

Siklus ini terlihat dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1988, 1998, dan 2008. Sedangkan krisis yang semestinya terjadi pada tahun 2018 mundur dua tahun ke tahun 2020.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu

Dalam perencanaan keuangan, Pandji mengatakan siklus krisis 10 tahun sekali sudah diperhitungkan jauh-jauh hari. “Secara umum pengelolaan keuangan dalam situasi seperti ini moderat dan konservatif saja. Jangan agresif, terutama untuk orang awam,” kata Pandji.

Dalam berinvestasi, dia menyarankan investor untuk bermain aman. Kendati begitu, kondisi saat ini tidak perlu membuat orang takut dan berhenti berinvestasi. Jika memiliki pengetahuan yang cukup, justru sekaranglah saat yang tepat untuk berinvestasi.

Namun sebelum mengambil keputusan untuk menambah dana investasi, Pandji mengingatkan agar kamu menyiapkan dana darurat dalam bentuk cash terlebih dahulu.

Bagi yang masih berstatus single, dana darurat yang harus disiapkan mencapai 6 kali kebutuhan keuangan bulanan. Sedangkan seseorang yang sudah berkeluarga disarankan memiliki dana darurat untuk kebutuhan keuangan 9 bulan hingga 12 bulan ke depan.

Jika sudah memiliki dana darurat, kamu sudah lebih aman untuk berinvestasi. Berikut ini, sejumlah instrumen investasi yang bisa kamu pilih.

Deposito masih menarik di saat krisis

Dengan melihat situasi pasar modal yang tidak kondusif, Pandji menilai deposito masih cukup menarik. Saat harga saham banyak berjatuhan, deposito masih bisa memberikan return yang pasti.

Baca juga: Langkah Tepat Memilih Deposito yang Menguntungkan

Dengan risiko investasi yang rendah, suku bunga deposito masih menarik. Pusat Data Kontan (Kontan.co.id) menunjukkan, rata-rata bunga deposito rupiah per tanggal 27 Maret 2020 sebesar 5,5% untuk deposito tenor 1 tahun. Sedangkan rata-rata suku bunga deposito dolar sebesar 1% untuk tenor 1 tahun.

Logam mulia yang makin berkilau

Saat krisis orang cenderung mencari aset yang aman atau safe haven. Aset safe haven yang paling populer bagi investor adalah emas atau logam mulia. Sebab, pertumbuhan harga emas tiap tahun bisa melampaui tingkat inflasi. Emas juga bisa dijual sewaktu-waktu saat kita membutuhkan dana sehingga investasi emas cukup likuid.

Baca juga: Tiga Resep Hindari Investasi Emas Digital Abal-abal

Pandji mengatakan, untuk jangka waktu investasi dua atau tiga tahun menaruh dana di logam mulia sangat tepat. Meskipun harga logam mulia saat ini sudah naik tinggi, tapi masih tetap berpotensi naik.

“Dahulu pada tahun 2009 atau 2010, orang bilang harga emas sudah terlalu tinggi, tapi faktanya harga emas sekarang sudah jauh lebih tinggi lagi atau naik hampir dua kali lipat,” tutur Pandji.

Data situs Logammulia.com, harga logam mulia Antam per tanggal 27 Maret 2020 senilai Rp924.000 per gram. Harga tersebut sudah naik 21,26% dibandingkan dengan harga akhir tahun 2019 atau hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan saja.

Obligasi ritel yang tetap ciamik

suku bunga BI turun

Surat utang atau obligasi ritel juga bisa menjadi pilihan menarik. Sebab, obligasi ritel yang diterbitkan oleh pemerintah memberikan kupon tetap di atas suku bunga acuan Bank Indonesia. “Obligasi ritel di pasar sekunder masih oke, karena bisa memberikan kupon lebih tinggi dari bunga deposito,” tutur Pandji.

Kamu bisa masuk ke obligasi ritel saat pertama kali diterbitkan. Jenis surat utang ritel seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel (Sukri) bisa dibeli dengan minimal pembelian Rp5 juta.

Jika sedang tidak ada penerbitan obligasi ritel baru, kamu bisa membelinya di pasar sekunder. Saat ini obligasi ritel yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder adalah ORI dan Sukri. Pembelian di pasar sekunder dapat dilakukan melalui mekanisme di luar bursa (over the counter/OTC).

Caranya kamu dapat menghubungi perusahaan sekuritas atau bank yang menjadi agen penjual surat utang ritel tersebut. Sebagai investor, kamu diwajibkan membuka rekening dan menyetorkan sejumlah dana sesuai dengan jumlah ORI atau Sukri yang dibeli ditambah dengan komisi bagi agen penjual.

Secara tidak langsung, kamu sudah menugaskan perusahaan sekuritas atau bank tersebut menjadi wakil dalam pembelian surat utang ritel tersebut. Setelah proses settlement, ORI atau Sukri yang kamu beli akan tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Reksa dana masih mempesona

Produk investasi lainnya yang potensial saat suku bunga turun adalah reksa dana. Ada beberapa jenis reksa dana yang bisa dipilih di antaranya adalah reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang.

Baca juga: Simak! Ini Strategi Saat Investasi Reksadana Turun Terus

Masing-masing jenis reksa dana tersebut memiliki aset dasar yang berbeda. Kinerja reksa dana akan ditentukan oleh kinerja aset dasarnya. Misalnya reksa dana saham, ketika harga saham yang dijadikan aset dasar naik, maka return reksa dana saham tersebut juga akan naik. Sebaliknya jika pasar saham sedang turun, imbal hasil reksa dana saham ikut terpangkas.

Nah kondisi pasar saham yang tengah terpuruk berimbas juga pada kinerja reksa dana saham. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana awal tahun ini tertekan. Tapi Pandji justru melihatnya sebagai peluang bagi investor untuk masuk.

“Kalau sekarang ini nilai reksa dana lagi turun, justru waktunya beli, tapi jangka waktu investasi harus empat tahun lagi. Dana yang digunakan juga memang tidak akan dipakai dalam waktu itu,” kata Pandji.

Bagi investor yang konservatif bisa memilih reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. Sedangkan investor moderat bisa masuk ke reksa dana campuran.

Saham untuk investasi jangka panjang

Bagi investor yang berani mengambil risiko lebih besar, pasar saham bisa menjadi instrumen investasi yang tepat. Return investasi saham bisa jauh melampaui suku bunga deposito perbankan. Sayangnya, pasar modal saat ini sedang bearish sebagai imbas dari wabah virus Corona (Covid-19).

Saat pasar saham tengah jatuh, Pandji juga melihatnya sebagai peluang investor untuk masuk. Investor bisa masuk ke saham-saham bluechips yang harganya sudah murah. Saham yang memiliki fundamental bagus berpotensi rebound ketika pasar modal sudah pulih lagi.

“Sekarang pasar saham lagi turun banget. Itu juga kesempatan. Dengan catatan punya dana idle yang tidak akan dipakai tiga atau empat tahun lagi,” kata Pandji.

Properti yang tetap prospektif

Jika memiliki dana lebih dari Rp2 miliar atau Rp 3miliar, Pandji juga menyarankan investasi properti. Dana tersebut bisa dipergunakan untuk membeli rumah untuk dikontrakan atau kos-kosan untuk disewakan.

Pendapatan dari uang sewa kontrakan atau kos-kosan dapat diperoleh terus menerus. Selain itu, harga properti yang dibeli juga akan terus naik setiap tahunnya. Kebutuhan kontrakan dan kos-kosan di kota besar masih sangat tinggi sehingga prospek investasi properti ini sangat menguntungkan.

Itulah ulasan instrumen-instrumen investasi yang potensial saat suku bunga BI turun terus. Setelah membaca artikel ini, kamu diharapkan bisa menempatkan dana pada instrumen investasi secara tepat.

Jangan ketinggalan tips dan inspirasi bisnis, finansial, serta investasi dari Satu Tumbuh Seribu